Study Tour sebagai Selingan Penuh Manfaat, Strategi Inkuiri sebagai Pemantapan


Picture: http://www.wan-ifra.org

Oleh: Dearga Sukaria

Guru sudah bukan menjadi penceramah yang selalu berpidato di depan kelas sedangkan siswa hanya duduk manis sambil mendengarkan. Terkadang siswa berusaha membuang rasa bosan mereka dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan pada saat guru berpidato di depan kelas, seperti: tidur, mendengarkan lagu dengan headset, melamun, menggambar, mengerjakan tugas mata pelajaran lain, dan masih banyak lagi. Ditambah lagi guru tidak menghiraukan dan memperhatikan apa yang dilakukan oleh siswanya. Kelas yang interaktif dan aktif sudah melemah jika guru masih saja menggunakan metode pembelajaran lama, yaitu dengan berpidato di depan kelas selama jam pelajaran.

Jika membicarakan metode pembelajaran mana yang paling efektif bagi saya adalah study tour. Dimana siswa diajak terjun langsung untuk menyaksikan tempat-tempat atau sumber yang bisa dirujuk sebagai media pembelajaran yang menjelaskan secara langsung materi-materi mata pelajaran yang dibawakan. Dan tentunya siswa meletakkan seluruh perhatian mereka pada tempat yang dituju tersebut. Dosen fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Isti Anah Abu Bakar, M.Ag juga berpendapat bahwa metode pembelajaran efektif yang sesuai dengan pengalaman beliau mengajar selama bertahun-tahun ini ialah study tour. Karena dengan study tour, dengan apa yang mereka lihat dan mereka dapatkan begitu berkesan sehingga membuat mereka mengingat dengan apa yang mereka dapatkan selama tour. Tetapi, selain study tour mempunyai keuntungan yang telah disebutkan, hal itu juga mempunyai kekurangan, yang mana kekurangan tersebut terletak pada sisi ekonomi. Study tour membutuhkan ongkos lebih. Selain itu, terdapat kendala-kendala lain jika salah satu siswa ada yang sakit, tidak mempunyai ongkos berangkat, dan belum mendapat ijin dari orang tua. Maka hal itu harus dirundingkan jauh-jauh hari sebelum study tour dilaksanakan.

Untuk metode pembelajaran study tour, tidak mungkin juga jika study tour dilaksanakan setiap hari.  Sedangkan siswa butuh asupan ilmu setiap hari, dengan bukti kedatangan mereka ke sekolah setiap harinya. Untuk metode pembelajaran di kelas, saya lebih memilih pembelajaran dengan Inquiry Strategy atau bila diartikan ke dalam Bahasa Indonesia yakni Strategi Inkuiri. Seperti yang tercantum dalam buku Belajar dan Pembelajaran (Damyati & Mudjiono, 2009) bahwa perilaku mengajar dengan Inquiry Strategy juga disebut sebagai Inquiry Model. Inquiry Model merupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga mereka memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dengan usaha mereka sendiri. Dalam model ini siswa dirancang untuk terlibat dalam pelaksanaan model pembelajaran ini. Siswa menjadi lebih berusaha lebih keras dan aktif belajar. Karena tujuan dari Inquiry Model ini adalah untuk mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah.
Sedangkan peran guru yang terpenting dalam model pembelajaran ini yang pertama adalah menciptakan suasana bebas berpikir, sehingga siswa berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah. Kedua, guru sebagai fasilitator dalam penelitian. Ketiga, guru sebagai rekan diskusi dalam klasifikasi dan pencarian alternatif pemecahan masalah. Dan yang terakhir adalah guru sebagai pembimbing penelitian, pendorong keberanian berpikir alternatif dalam pemecahan masalah. Sebagai pembimbing proses berpikir, guru menyampaikan beberapa pertanyaan dan berperan yang menonjol pada strategi guided inquiry, dimana kemungkinan penemuan telah diperhitungkan sebelumnya oleh guru.

Komentar

Postingan Populer